Aku mulai mengenal dunia merah jambu ketika merantau ke kota untuk melanjutkan sekolah. Aku masuk ke sebuah SMK lalu berkenalan dengan seorang lelaki hingga berpacaran dengannya. Sebut saja namanya Dian. Dari sini, kisah cintaku dimulai.
Sayangnya, hubungan kami kandas. Walau demikian, kami tetap berkomunikasi dan dekat seperti biasa.
Aku lulus sekolah dan mendapat sebuah pekerjaan di Jakarta. Hubungan dengan Dian pun tak berubah sama sekali, masih tanpa status. Yah, bisa dikatakan TTM. Namun, sebulan sekali aku menemuinya.
Hingga pada suatu ketika saat kami bertemu untuk ke sekian kalinya. Dian memaksaku menyerahkan kesucianku padanya. Percuma saja aku meronta, tenaganya jauh lebih kuat. Akhirnya, aku merelakannya. Setelah kejadian itu, setiap ada kesempatan kami melakukannya.
Waktu terus berlalu. Aku terus melanjutkan pekerjaan di Jakarta. Hingga kembali bertemu dengan seorang lelaki, sebut saja namanya Roy.
Dibanding Dian, Roy membuatku jauh lebih nyaman. Aku benar benar betah saat bersamanya. Dia begitu hangat dan peduli. Saat dekat dengan Roy, aku masih menjalin komunikasi dengan Dian.
Hubunganku dengan Roy semakin intens. Setelah dua kali pertemuan kami memutuskan untuk ke puncak dan menginap di sana.
Mudah saja bagi Roy untuk merayuku. Lagi, aku berzina. Rabb, betapa hina diri ini.
Karena hubungan itu, Roy akhirnya tahu bahwa aku sudah tak suci lagi. Bahkan, dia tahu bahwa yang melakukannya adalah mantanku sebelumnya.
Kukira dia akan pergi, ternyata tidak! Dia menerimaku. Yah, dia tetap berada di sisiku dan hal itu membuatku tenang. Bahkan dia bertanya, apakah memilih dirinya atau Dian? Tentu saja, aku memilih bersamanya.
Kisah cinta dengan Roy terus berlanjut hingga setahun lamanya. Dalam masa itu, kami berzina setiap Minggu. Melakukan perbuatan terlarang itu tanpa henti. Ya Rabb, ampuni dosaku.
Hingga akhirnya, aku mengajaknya untuk ke tahap yang lebih serius, yakni pernikahan, karena tak ingin terus menerus melakukan dosa. Dia setuju.
Roy akhirnya menikahiku. Beberapa bulan kemudian aku hamil. Semua berjalan lancar hingga aku melahirkan. Rasanya, segala sesuatu terlihat begitu indah.
Sayangnya, setelah bayiku berusia 5 bulan. Roy ketahuan selingkuh dengan wanita lain di tempatnya bekerja. Setahuku, dia hanya jalan berdua saja, tapi Roy sendiri yang berkata jujur bahwa dia telah merenggut kesucian wanita itu. Hatiku hancur, benar-benar hancur. Saat itu aku mencoba bunuh diri, namun gagal.
"Aku sudah mau menerimamu apa adanya. Sekarang kau pun harus menerima apa yang sudah kulakukan," ucap Roy kala itu. Dia beralasan melakukan hal tersebut karena ingin merasakan wanita yang masih suci.
Astagfirullah! Kukira dia benar-benar menerimaku apa adanya. Ternyata tidak! Itu semua bohong.
Mungkin, ini sebuah tebusan untuk dosa di masa lalu. Aku lalu memaafkannya. Kukira setelah kejadian tersebut dia tak lagi melanjutkan kisah cintanya dengan wanita itu. Ternyata tidak!
Roy masih saja menjalin hubungan dengan selingkuhannya. Aku sungguh menderita. Kucoba untuk berlapang dada, kesalahan masa lalu memang harus dibayar mahal. Aku mengajukan cerai.
Bukannya aku tak cinta dengan Roy, tapi aku sungguh kasihan dengan wanita yang diambil kesuciannya. Aku hanya ingin Roy bertanggung jawab kepadanya. Herannya, dia tak mau menceraikanku.
Setiap hari aku harus membaca chat mesra suami dengan selingkuhannya. Hidupku sungguh hancur dan menderita luar biasa.
"Sampai kapan Mas akan seperti ini? Tegaslah! Jangan terus-menerus menyakitiku," lirihku padanya.
"Sampai aku keluar dari pekerjaanku," balasnya enteng.
Alhamdulillah, tak berapa lama Roy resign dari pekerjaannya. Namun, sungguh jauh panggang dari api. Ternyata suamiku masih saja lengket dengan wanita tersebut.
Hingga akhirnya, wanita itu yang undur diri karena merasa jenuh dan bosan. Suamiku akhirnya setuju. Mereka bubar.
Raga suamiku mungkin sudah kembali ke pelukanku, tapi tidak dengan hatinya. Sikapnya telah berubah, tak ada lagi sikap manis terhadapku. Yang ada hanyalah pandangan dingin nan menyakitkan.
Saat mengetahui perselingkuhan suami, keluargaku mencela dan memakinya. Roy tidak terima. Akhirnya, hal itu terjadi.
Dia kirim SMS kepada ibunya, mengatakan aku sudah tidak suci lagi saat dinikahi.
Aku menjerit. Mengapa dia tega membuka aibku? Sungguh, hatiku hancur untuk kedua kalinya.
Dia melontarkan kata cerai. Sedang aku hanya bisa menangis tanpa henti.
Ibunya kemudian datang padaku. "Bayi itu anak siapa?" tanyanya.
"Anak suamiku," jawabku dengan nada getir.
"Aku memang tak suci lagi saat Roy menikahiku, tapi kemarin anak ibu selingkuh dan merenggut kesucian wanita lain," sambungku.
Sontak saja ibunya berubah geram, "Kalau kau tahu dia tak perawan, lalu mengapa kau menikahinya?" tanyanya pada Roy.
"Lalu, wanita yang sudah kau ambil kesuciannya, apa dia tak meminta pertanggungjawaban?"
Roy hanya diam. Tak menjawab sepatah kata pun. Melihat hal demikian, ibunya pun berlalu.
Sepeninggal ibunya, Roy terus memarahiku karena kesal dengan keluargaku yang terus mencaci makinya.
Setelah kejadian itu, datanglah kabar baik dari mertua melalui sebuah pesan pada suami, "Lupakanlah masa lalu istrimu. Sekarang dia telah menjadi istrimu dan sudah melahirkan anak pula. Terima dia apa adanya."
Mengetahuinya, hatiku tenang. Sedang Roy malah kesal, karena dia berharap ibunya marah padaku.
Akhirnya, aku dan Roy kembali rujuk. Namun, dia berubah drastis: cuek dan dingin. Lalu, dia kembali menghubungi wanita itu lagi. Hatiku hancur sehancur-hancurnya.
Di sela sakit hati yang luar biasa, aku meminta maaf kepada Roy dengan tangisan yang menyayat hati. Meminta maaf atas kesalahan di masa lalu. Kukatakan, aku tak ingin bertengkar lagi.
Atas kehendak Allah, hati Roy luluh melihat air mataku yang berderai dan tumpah ruah. Dia meminta maaf dan mulai membaik. Sikapnya, kembali hangat.
Aku lega, tapi tetap saja, aku tak sanggup mengangkat kepala di hadapan mertua. Sungguh, aku sangat malu kepadanya.
***
Kisah ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Anda boleh percaya atau tidak. Namun, ada banyak pelajaran dalam kisah ini.
Pertama, sangat ditekankan kepada para wanita untuk menjaga pergaulannya demi terlindungi kehormatan dan kemuliaannya.
Kedua, apa pun masalah yang di hadapi oleh suami istri, bicarakanlah baik baik dan jangan sampai masalah tersebut tersebar ke mana mana.
Ketiga, sembunyikanlah aib pasangan. Istri pakaian bagi suami, begitu pun sebaliknya.
Tentu masih banyak faedah lain yang bisa dijadikan pelajaran. Semoga saja bermanfaat. Sekian.

No comments:
Post a Comment